Amacam, cantik x? Ini lah pokok hasil tanamanku...syok la main ni...hehe layan jelah... skrg ni mgkin hnye skadar bercucuk tanam,dan menjualnya melalui game, ble ad modal kang br la btl2 punye...who knows aku leh jd usahawan atau petani moden yang berjaya satu hari nanti...btl x?hehe
3/23/2009
Syok...
3/18/2009
Allah Sentiasa Menerima Do'a

Allah Sentiasa Menerima Do'a
Surah al-Baqarah ayat 186 yang artinya:
"Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (wahai Muhammmad) tentang Aku, (maka jawablah) sesungguhnya Aku ini dekat, Aku menjawab seruan orang yang berdoa kepadaKu apabila dia berdoa. Maka hendaklah dia menjawab seruanKu (menunaikan perintahKu) dan beriman kepadaKu, agar supaya mereka selalu berada di atas petunjuk”
Ya! Allah itu dekat dan amat memperhatikan segala do`a yang dipanjatkan kepadaNya. Karena itu, sangat mengherankan bila ada insan yang meninggalkan doa kepada Allah yang dekat kepadaNya lalu mendapatkan makhluk-makhluk yang tidak berdaya untuk mengadukan segala rasa hati dan dukacita. Padahal kita tahu bahwa sikap makhluk apabila terlalu banyak diminta maka bertambah rasa bosannya, sedangkan Allah, makin banyak kita mengadu dan meminta, makin bertambah pula kasih dan sayangNya.
Allah tidak jauh dari setiap hamba. Yang menjadikan Allah itu jauh dari kita ialah diri kita sendiri. Hati yang tidak merasai keberadaan dan rahmat Allah serta pemahaman yang tidak betul terhadap agama, selalu menjauhkan perasaan manusia daripada Allah.
Siapa yang hatinya bersih akan menangislah dia apabila membaca ayat di atas. Betapa Allah dengan penuh kasih sayang meminta kepada RasulNya agar memberitahu bahwa Dia sangat dekat kapada mereka serta mendengar doa dan rintihan mereka.
Kita diajar di dalam Islam agar senantiasa bergantung kepada Allah niscaya kita dapati Allah senantiasa bersama kita. Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kepada Ibnu Abbas ketika dia masih kecil yang artinya:
"Wahai anak! Sesungguhnya aku ingin mengajarmu beberapa kalimat. Jagalah Allah (jagalah perintahNya) nescaya Allah menjagamu. Jagalah Allah (jauhilah larangan-Nya) nescaya engkau dapati Dia di hadapanmu (memenuhi kebutuhanmu). Apabila engkau meminta, mintalah kepada Allah. Apabila engkau mohon pertolongan, minta tolonglah kepada Allah." (Riwayat al-Tirmizi hadith ke-2516, katanya hadith ini hasan sahih)
Apabila seseorang menjaga agamanya, memelihara tanggungjawabnya sebagaimana diperintahkan oleh Allah kepadanya, maka dia akan merasa betapa Allah bersama dengannya semua urusannya.
*dipetik daripada yusuf qardawi
2/09/2009
wanita ini

Perempuan yang baik untuk lelaki yang baik...
Ya Allah jadikan lah aku dikalangan perempuan2 yang solehah yang engkau redhai...
Jauhi diriku dari segala yang bioleh menjerumus diriku ke dalam api nerakamu...
2/05/2009
Lobak. Kopi dan Telur
Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu sukar dan menyakitkan baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah kalah dalam kehidupan. Dia sudah letih untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.
Ayahnya, seorang tukang masak, membawanya ke dapur. Dia mengisi 3 periuk dengan air dan menaruhnya di atas api. Setelah air di ketiga-tiga periuk tersebut mendidih. Ia menaruh lobak merah di dalam periuk pertama, telur di periuk kedua dan ia menaruh serbuk kopi di periuk terakhir.
Dia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak tertanya-tanya dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan oleh ayahnya.
Setelah 20 minit, si ayah mematikan api. Ia menyisihkan lobak dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.
Lalu ia bertanya kepada anaknya, "Apa yang kau lihat, nak?" "Lobak, telur, dan kopi" jawab si anak.
Ayahnya mengajaknya mendekati mangkuk dan memintanya merasakan lobak itu. Dia melakukannya dan merasakan bahawa lobak itu terasa enak.Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, dia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras.
Terakhir, ayahnya memintanya untuk menghirup kopi. Si anak tersenyum seketika, menghirup kopi dengan aromanya yang sungguh enak itu.
Setelah itu, si anak bertanya, "Apa erti semua ini, Ayah?"
Ayahnya menerangkan bahawa ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama, perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeza.Lobak sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, lobak menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah.
Cengkerang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Serbuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, serbuk kopi merubah air tersebut.
"Kamu termasuk yang mana?," tanya ayahnya.
"Air panas yang mendidih itu umpama kesukaran dan dugaan yang bakal kamu lalui... Ketika kesukaran dan kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu lobak, telur atau serbuk kopi?"
Iktibar : Apakah anda adalah lobak yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lembut dan kehilangan kekuatanmu.
Atau adakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut, dengan jiwa yang dinamik? Namun setelah adanya kematian, patah hati,perceraian atau kegagalan menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati
yang kaku?
Ataukah kamu adalah serbuk kopi? Serbuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksima pada suhu 100 darjah Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat.
Jika kamu seperti serbuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga menjadi semakin baik.
Ayahnya, seorang tukang masak, membawanya ke dapur. Dia mengisi 3 periuk dengan air dan menaruhnya di atas api. Setelah air di ketiga-tiga periuk tersebut mendidih. Ia menaruh lobak merah di dalam periuk pertama, telur di periuk kedua dan ia menaruh serbuk kopi di periuk terakhir.
Dia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak tertanya-tanya dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan oleh ayahnya.
Setelah 20 minit, si ayah mematikan api. Ia menyisihkan lobak dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.
Lalu ia bertanya kepada anaknya, "Apa yang kau lihat, nak?" "Lobak, telur, dan kopi" jawab si anak.
Ayahnya mengajaknya mendekati mangkuk dan memintanya merasakan lobak itu. Dia melakukannya dan merasakan bahawa lobak itu terasa enak.Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, dia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras.
Terakhir, ayahnya memintanya untuk menghirup kopi. Si anak tersenyum seketika, menghirup kopi dengan aromanya yang sungguh enak itu.
Setelah itu, si anak bertanya, "Apa erti semua ini, Ayah?"
Ayahnya menerangkan bahawa ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama, perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeza.Lobak sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, lobak menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah.
Cengkerang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Serbuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, serbuk kopi merubah air tersebut.
"Kamu termasuk yang mana?," tanya ayahnya.
"Air panas yang mendidih itu umpama kesukaran dan dugaan yang bakal kamu lalui... Ketika kesukaran dan kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu lobak, telur atau serbuk kopi?"
Iktibar : Apakah anda adalah lobak yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lembut dan kehilangan kekuatanmu.
Atau adakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut, dengan jiwa yang dinamik? Namun setelah adanya kematian, patah hati,perceraian atau kegagalan menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati
yang kaku?
Ataukah kamu adalah serbuk kopi? Serbuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksima pada suhu 100 darjah Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat.
Jika kamu seperti serbuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga menjadi semakin baik.
2/02/2009
Hukum Lelaki Pakai Gelang Untuk Perubatan
Benarkan Islam melarang berubat dengan memakai gelang? Ada sebahagian orang yang mendakwa Nabi saw melarang berubat dengan memamai gelang berdasarkan hadith riwayat Ahmad bahawa Rasulullah s.a.w. telah melihat di pergelangan tangan seorang lelaki yang memakai gelang diperbuat daripada tembaga, maka baginda bertanya kepada lelaki berkenaan, Apakah bendanya ini?” Lelaki itu berkata: “Ia adalah gelang perubatan, buangkan benda itu dari diri anda, jika sekiranya anda mati dan benda itu ada pada diri anda, maka anda tidak akan berjaya selama-lamanya.” (Hadith Sohih yang ke-19,885 riwayat Imam Ahmad di dalam Musnadnya)
Jawapan:
Oleh: Mohamad Abdul Kadir bin Sahak
Hadith yang saudara maksudkan diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnadnya demikian juga Ibn Majah di dalam Sunannya. Hadith ini diriwayatkan daripada ‘Imran bin Husain, Lafaznya ialah:
أن النبي -صلى الله عليه وسلم- رأى رجلا في يده حلقة من صفر فقال: ما هذه? قال: من الواهنة، قال: انزعها فإنها لا تزيدك إلا وهنًا، فإنك لو مت وهي عليك ما أفلحت أبدًا
Maksudnya lebih kurang: “Bahawasanya Nabi saw telah melihat seorang lelaki di tangannya ada gelang daripada tembaga, Nabi saw bertanya: “Apakah ini?” Orang itu menjawab: “ianya daripada al-Wahinah.” Sabda Nabi saw: “Tanggalkannya segera, sesungguhnya dia tidak menambahkan kepadamu melainkan kelemahan, sesungguhnya jika kamu mati dan gelang itu ada padamu, kamu tidak akan berjaya selama-lamanya.”
Dalam hadith ini tidak disebut siapakah lelaki yang memakai gelang tersebut, namun di dalam al-Mustadrak al-Hakim dinyatakan lelaki tersebut ialah ‘Imran bin Husain sendiri.
Tentang hadith ini para ulama berbeza pendapat akan kesahihannya. Hadith ini diriwayatkan daripada al-Hasan daripada ‘Imran bin Husain. Para ulama berbeza pendapat apakah al-Hasan (الحسن) benar-benar mendengar daripada ‘Imran bin Husain (عمران بن حسين) ataupun tidak. Demikian juga di dalam hadith ini ada periwayat yang bernama Mubarak bin Fadhalah (مبارك بن فضالة), ia juga diperselisihkan di kalangan ulama hadith. Kesimpulannya para ulama tidak sepakat dalam mensahih dan mendhoiefkan hadith ini.
Jika kita mengambil pendapat ulama hadith yang mensahihkan hadith tersebut, tinggal kepada kita untuk benar-benar memahami maksudnya sehingga kita boleh berhukum dengannya dengan cara yang betul. Perkara ini perlu supaya kita tidak keras mengharam sesuatu yang sebenarnya tidak haram seperti yang kita sangka.
Al-Syeikh Soleh bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan menyebut, pertanyaan Nabi saw: “Apakah bendanya ini.” Yang zahir, pertanyaan ini adalah pertanyaan yang menunjukkan pengingkaran, namun dikatakan juga pertanyaan Nabi saw itu adalah untuk mengetahui tujuannya memakai gelang tersebut.
Manakala jawapan lelaki tersebut: “ianya daripada al-Wahinah.” Membawa maksud, aku memakainya untuk mengelakkan al-Wahinah, untuk dia melindungi aku daripadanya (yakni melindungi daripada al-Wahinah). Al-Wahinah adalah penyakit yang kena pada tangan, dinamakan di kalangan orang Arab dengan al-Wahinah, termasuk di dalam kebiasaan mereka memakai gelang untuk berlindung daripada kesakitannya dan mereka percaya gelang tersebut akan melindungi dari penyakit tersebut.
(Sila lihat di sini:
http://www.alfawzan.ws/AlFawzan/Libr…32§ionid=2)
Al-Syeikh ‘Abdul Hakim (Kuliah al-Syariah Uni. Al-Imam Muhammad bin Saud) di dalam laman islamtoday berkata: Para ulama berbeza pendapat tentang maksud al-Wahinah, namun mereka bersepakat akan illah (sebab) larangan tersebut… Ulama telah bersepakat bahawa illah (sebab) larangan tersebut ialah kerana orang menjadikannya (al-Wahinah) seperti tangkal, yang terdapat larangan menggantungnya.
(Sila lihat:
http://www.islamtoday.net/questions/…t.cfm?id=43737)
Berdasarkan fatwa ini, ia menunjukkan larangan memakai al-Wahinah yang ada di dalam hadith tersebut bukanlah semata-mata kerana ianya gelang, dan bukan juga larangan dari berubat dengan gelang. Sebaliknya larangan tersebut disebabkan ia dipakai dan dianggap seperti tangkal bertujuan memelihara diri dari penyakit. Tangkal yang dianggap boleh berubat ini, yang dinamakan sebagai al-Wahinah oleh orang Arab tidak ada sebarang bukti menunjukkan ia boleh menghalang dari penyakit samaada bukti dari Nas Syara’ (al-Quran atau al-Hadith) mahupun penemuan sebab-sebab dia boleh bertindak sebagai ubatan. Kerana itu ia dilarang oleh Nabi saw. Ringkasnya larangan itu adalah disebabkan tangkal yang tidak ada bukti berperanan sebagai pengubat melainkan khayalan dan khurafat semata.
Maka apabila terdapat nas Syara’ atau penemuan saintifik yang dapat membuktikan sesuatu bahan seperti logam atau seumapamanya yang jika dipakai dibadan dapat melancarkan perjalanan darah atau seumpamanya, sudah tentu bahan tersebut boleh digunakan insyaallah. Ini termasuk cara perubatan yang ditemui, hasil dari kajian melalui sebab musababnya.
Ini kerana perubatan yang dibenarkan itu terdiri daripada:
Perubatan dengan ayat-ayat al-Quran dan al-Hadith.
Perubatan dengan bahan-bahan yang disebut di dalam al-Quran dan al-Hadith seperti Madu, Habbah al-Sauda dan seumpamanya.
Perubatan berdasarkan kajian saintifik terhadap sebab-sebabnya, atau berdasarkan pengalaman mengunakannya.
Para ulama berbeza pendapat tentang hukum orang lelaki memakai gelang, sebahagian mengatakan harus dan sebahagian yang lain mengatakan haram. Namun para ulama yang mengharamkan pemakaian gelang bagi lelaki, setakat penelitian saya tidak ada yang menjadikan hadith di atas sebagai dalil dalam pengharam tersebut. Sebaliknya hadith tersebut banyak digunakan ketika berbicara tentang tangkal dan azimat yang dianggap dapat melindungi dan mengubati tanpa sebarang bukti dari nas syara’ mahupun kajian saintifik. Al-Sindiy ketika mensyarahkan hadith di atas di dalam Sunan Ibn Majah menyatakan larangan tersebut kerana ianya sama dengan al-Tama-im atau tangkal yang dilarang penggunaannya. Kadangkala tangkal itu digantung bersama dengan manik, yang dinamakan Manik al-Wahinah (خرز الواهنة)
Penggunaan sesuatu tangkal (terdiri dari potongan besi, tembaga, simpulan benang dan lain-lain) untuk berubat dan memelihara diri, ada perbezaan yang cukup besar dengan cara perubatan dengan sesuatu bahan hasil dari penemuan saintifik. Kepercayaan kepada tangkal yang dapat berubat adalah suatu khayalan yang tidak diterima di dalam syara’, dan ianya tidak ada kaitan langsung dengan unsur-unsur perubatan. Berbeza dengan penggunaan sesuatu bahan hasil dari kajian saintifik dan terbukti memberi manfaat kepada manusia.
Kerana itu, al-Syeikh ‘Abdul Halim di dalam fatwa yang sama (yang saya sebutkan sumbernya di atas) membenarkan penggunaan potongan besi (yang digunakan dalam perubatan moden) yang ditanam pada beberapa gigi, atau di tempat-tempat tertentu di tubuh badan yang berperanan menyerap aliran elektrik yang boleh menjadi sebab seseorang hilang ingatannya (pengsan). Beliau menyambung jika seseorang pesakit mendapat manfaat dengan cara sebegini dengan pengakuan individu berkeahlian yang dipercayai, maka ianya tidak mengapa insyaallah. Cuma beliau di dalam fatwanya mencadangkan lebih baik jika bahan seperti potongan besi itu digunakan ditempat yang tersembunyi sebagai mengelak dari buruk sangka orang ramai.
Demikian juga di dalam laman islam-online, al-Ustaz Muhammad Sa’di (Penyelidik laman islam-online) ketika ditanya tentang hukum memakai gelang dari tembaga yang diperbuat bagi tujuan perubatan apakah dibenarkan atau ia termasuk di dalam Syirik yang kecil, beliau menjawab: “Jika terbukti kemanfaatan gelang tersebut sebagai perubatan, maka perbuatan itu tidak mengapa, adapun jika tidak ada padanya sebarang manfaat, maka jangan dipakaikan kerana ketika itu ia termasuk dalam kumpulan memakai tangkal dan azimat.”
(Sila lihat soalan ke 11:
http://www.islamonline.net/livefatwa…GuestID=n4MV6S)
Seperti yang saya sebutkan di atas, para ulama berbeza pendapat tentang hukum pemakaian gelang bagi lelaki. Di dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah menyebut di sisi mazhab al-Syafieyyah terdapat dua wajah tentang hukum perhiasan lelaki selain cincin perak seperti gelang tangan dilengan (الدملج) dan gelang (السوار) dan kalung (الطوق) dan mahkota (التاج). Pertama mengatakan haram dan kedua mengatakan harus selama mana tidak menyerupai wanita, kerana tidak thabit dalam (pengharaman) perak melainkan pengharaman untuk bekas-bekas (seperti pinggan, mangkuk dll), dan perhiasan dalam bentuk menyerupai wanita. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah 18/110 bawah bab al-Huliy)
Darul Ifta’al-Misriyyah pula di dalam laman webnya menyebut perkataan al-Rafi’e (ulama mazhab al-Syafie) di dalam Syarh al-Wajiz yang mengatakan harus bagi lelaki memaki cincin perak berdasarkan riwayat cincin Nabi saw daripada perak dan harus juga memakai selain cincin dari perhiasan perak seperti gelang dan gelang lengan dan kalung. Demikian juga perkataan Abu Said al-Mutawali yang mengatakan apabila harus memakai cincin perak, maka tidak ada beza antara jari-jari dengan anggota lainnya, sama seperti perhiasan emas yang dihalalkan untuk wanita, maka diharuskan untuk orang lelaki memakai gelang di lengan, kalung di tengkuk dan gelang di tangan dan selainnya kerana tidak thabit pengharaman perak melainkan pengharaman kepada bekas-bekas dan pengharaman menyerupai wanita.
(Sila lihat laman rasmi Dar al-Ifta’ al-Misriyyah: http://www.dar-alifta.com/)
Kesimpulan dari jawapan di atas ialah:
TIDAK HARAM berubat dengan gelang yang terbukti melalui kajian saintifik atau pengakuan individu yang berkelayakan dan boleh dipercayai agamanya.
Larangan memakai gelang yang dinamakan al-Wahinah di dalam hadith bukan merujuk kepada gelang semata-mata dan bukan juga merujuk kepada larangan berubat dengan gelang, sebaliknya ia merujuk kepada merubat dengan tangkal atau gelang yang hanya semata-mata tangkal.
Orang-orang yang menggunakan gelang atas sebab-sebab yang dibenarkan hendaklah memerhatikan yang mereka tidak sampai ke tahap yang dilarang seperti pembaziran dan menyerupai wanita dalam penggunaannya.
Jawapan:
Oleh: Mohamad Abdul Kadir bin Sahak
Hadith yang saudara maksudkan diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnadnya demikian juga Ibn Majah di dalam Sunannya. Hadith ini diriwayatkan daripada ‘Imran bin Husain, Lafaznya ialah:
أن النبي -صلى الله عليه وسلم- رأى رجلا في يده حلقة من صفر فقال: ما هذه? قال: من الواهنة، قال: انزعها فإنها لا تزيدك إلا وهنًا، فإنك لو مت وهي عليك ما أفلحت أبدًا
Maksudnya lebih kurang: “Bahawasanya Nabi saw telah melihat seorang lelaki di tangannya ada gelang daripada tembaga, Nabi saw bertanya: “Apakah ini?” Orang itu menjawab: “ianya daripada al-Wahinah.” Sabda Nabi saw: “Tanggalkannya segera, sesungguhnya dia tidak menambahkan kepadamu melainkan kelemahan, sesungguhnya jika kamu mati dan gelang itu ada padamu, kamu tidak akan berjaya selama-lamanya.”
Dalam hadith ini tidak disebut siapakah lelaki yang memakai gelang tersebut, namun di dalam al-Mustadrak al-Hakim dinyatakan lelaki tersebut ialah ‘Imran bin Husain sendiri.
Tentang hadith ini para ulama berbeza pendapat akan kesahihannya. Hadith ini diriwayatkan daripada al-Hasan daripada ‘Imran bin Husain. Para ulama berbeza pendapat apakah al-Hasan (الحسن) benar-benar mendengar daripada ‘Imran bin Husain (عمران بن حسين) ataupun tidak. Demikian juga di dalam hadith ini ada periwayat yang bernama Mubarak bin Fadhalah (مبارك بن فضالة), ia juga diperselisihkan di kalangan ulama hadith. Kesimpulannya para ulama tidak sepakat dalam mensahih dan mendhoiefkan hadith ini.
Jika kita mengambil pendapat ulama hadith yang mensahihkan hadith tersebut, tinggal kepada kita untuk benar-benar memahami maksudnya sehingga kita boleh berhukum dengannya dengan cara yang betul. Perkara ini perlu supaya kita tidak keras mengharam sesuatu yang sebenarnya tidak haram seperti yang kita sangka.
Al-Syeikh Soleh bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan menyebut, pertanyaan Nabi saw: “Apakah bendanya ini.” Yang zahir, pertanyaan ini adalah pertanyaan yang menunjukkan pengingkaran, namun dikatakan juga pertanyaan Nabi saw itu adalah untuk mengetahui tujuannya memakai gelang tersebut.
Manakala jawapan lelaki tersebut: “ianya daripada al-Wahinah.” Membawa maksud, aku memakainya untuk mengelakkan al-Wahinah, untuk dia melindungi aku daripadanya (yakni melindungi daripada al-Wahinah). Al-Wahinah adalah penyakit yang kena pada tangan, dinamakan di kalangan orang Arab dengan al-Wahinah, termasuk di dalam kebiasaan mereka memakai gelang untuk berlindung daripada kesakitannya dan mereka percaya gelang tersebut akan melindungi dari penyakit tersebut.
(Sila lihat di sini:
http://www.alfawzan.ws/AlFawzan/Libr…32§ionid=2)
Al-Syeikh ‘Abdul Hakim (Kuliah al-Syariah Uni. Al-Imam Muhammad bin Saud) di dalam laman islamtoday berkata: Para ulama berbeza pendapat tentang maksud al-Wahinah, namun mereka bersepakat akan illah (sebab) larangan tersebut… Ulama telah bersepakat bahawa illah (sebab) larangan tersebut ialah kerana orang menjadikannya (al-Wahinah) seperti tangkal, yang terdapat larangan menggantungnya.
(Sila lihat:
http://www.islamtoday.net/questions/…t.cfm?id=43737)
Berdasarkan fatwa ini, ia menunjukkan larangan memakai al-Wahinah yang ada di dalam hadith tersebut bukanlah semata-mata kerana ianya gelang, dan bukan juga larangan dari berubat dengan gelang. Sebaliknya larangan tersebut disebabkan ia dipakai dan dianggap seperti tangkal bertujuan memelihara diri dari penyakit. Tangkal yang dianggap boleh berubat ini, yang dinamakan sebagai al-Wahinah oleh orang Arab tidak ada sebarang bukti menunjukkan ia boleh menghalang dari penyakit samaada bukti dari Nas Syara’ (al-Quran atau al-Hadith) mahupun penemuan sebab-sebab dia boleh bertindak sebagai ubatan. Kerana itu ia dilarang oleh Nabi saw. Ringkasnya larangan itu adalah disebabkan tangkal yang tidak ada bukti berperanan sebagai pengubat melainkan khayalan dan khurafat semata.
Maka apabila terdapat nas Syara’ atau penemuan saintifik yang dapat membuktikan sesuatu bahan seperti logam atau seumapamanya yang jika dipakai dibadan dapat melancarkan perjalanan darah atau seumpamanya, sudah tentu bahan tersebut boleh digunakan insyaallah. Ini termasuk cara perubatan yang ditemui, hasil dari kajian melalui sebab musababnya.
Ini kerana perubatan yang dibenarkan itu terdiri daripada:
Perubatan dengan ayat-ayat al-Quran dan al-Hadith.
Perubatan dengan bahan-bahan yang disebut di dalam al-Quran dan al-Hadith seperti Madu, Habbah al-Sauda dan seumpamanya.
Perubatan berdasarkan kajian saintifik terhadap sebab-sebabnya, atau berdasarkan pengalaman mengunakannya.
Para ulama berbeza pendapat tentang hukum orang lelaki memakai gelang, sebahagian mengatakan harus dan sebahagian yang lain mengatakan haram. Namun para ulama yang mengharamkan pemakaian gelang bagi lelaki, setakat penelitian saya tidak ada yang menjadikan hadith di atas sebagai dalil dalam pengharam tersebut. Sebaliknya hadith tersebut banyak digunakan ketika berbicara tentang tangkal dan azimat yang dianggap dapat melindungi dan mengubati tanpa sebarang bukti dari nas syara’ mahupun kajian saintifik. Al-Sindiy ketika mensyarahkan hadith di atas di dalam Sunan Ibn Majah menyatakan larangan tersebut kerana ianya sama dengan al-Tama-im atau tangkal yang dilarang penggunaannya. Kadangkala tangkal itu digantung bersama dengan manik, yang dinamakan Manik al-Wahinah (خرز الواهنة)
Penggunaan sesuatu tangkal (terdiri dari potongan besi, tembaga, simpulan benang dan lain-lain) untuk berubat dan memelihara diri, ada perbezaan yang cukup besar dengan cara perubatan dengan sesuatu bahan hasil dari penemuan saintifik. Kepercayaan kepada tangkal yang dapat berubat adalah suatu khayalan yang tidak diterima di dalam syara’, dan ianya tidak ada kaitan langsung dengan unsur-unsur perubatan. Berbeza dengan penggunaan sesuatu bahan hasil dari kajian saintifik dan terbukti memberi manfaat kepada manusia.
Kerana itu, al-Syeikh ‘Abdul Halim di dalam fatwa yang sama (yang saya sebutkan sumbernya di atas) membenarkan penggunaan potongan besi (yang digunakan dalam perubatan moden) yang ditanam pada beberapa gigi, atau di tempat-tempat tertentu di tubuh badan yang berperanan menyerap aliran elektrik yang boleh menjadi sebab seseorang hilang ingatannya (pengsan). Beliau menyambung jika seseorang pesakit mendapat manfaat dengan cara sebegini dengan pengakuan individu berkeahlian yang dipercayai, maka ianya tidak mengapa insyaallah. Cuma beliau di dalam fatwanya mencadangkan lebih baik jika bahan seperti potongan besi itu digunakan ditempat yang tersembunyi sebagai mengelak dari buruk sangka orang ramai.
Demikian juga di dalam laman islam-online, al-Ustaz Muhammad Sa’di (Penyelidik laman islam-online) ketika ditanya tentang hukum memakai gelang dari tembaga yang diperbuat bagi tujuan perubatan apakah dibenarkan atau ia termasuk di dalam Syirik yang kecil, beliau menjawab: “Jika terbukti kemanfaatan gelang tersebut sebagai perubatan, maka perbuatan itu tidak mengapa, adapun jika tidak ada padanya sebarang manfaat, maka jangan dipakaikan kerana ketika itu ia termasuk dalam kumpulan memakai tangkal dan azimat.”
(Sila lihat soalan ke 11:
http://www.islamonline.net/livefatwa…GuestID=n4MV6S)
Seperti yang saya sebutkan di atas, para ulama berbeza pendapat tentang hukum pemakaian gelang bagi lelaki. Di dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah menyebut di sisi mazhab al-Syafieyyah terdapat dua wajah tentang hukum perhiasan lelaki selain cincin perak seperti gelang tangan dilengan (الدملج) dan gelang (السوار) dan kalung (الطوق) dan mahkota (التاج). Pertama mengatakan haram dan kedua mengatakan harus selama mana tidak menyerupai wanita, kerana tidak thabit dalam (pengharaman) perak melainkan pengharaman untuk bekas-bekas (seperti pinggan, mangkuk dll), dan perhiasan dalam bentuk menyerupai wanita. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah 18/110 bawah bab al-Huliy)
Darul Ifta’al-Misriyyah pula di dalam laman webnya menyebut perkataan al-Rafi’e (ulama mazhab al-Syafie) di dalam Syarh al-Wajiz yang mengatakan harus bagi lelaki memaki cincin perak berdasarkan riwayat cincin Nabi saw daripada perak dan harus juga memakai selain cincin dari perhiasan perak seperti gelang dan gelang lengan dan kalung. Demikian juga perkataan Abu Said al-Mutawali yang mengatakan apabila harus memakai cincin perak, maka tidak ada beza antara jari-jari dengan anggota lainnya, sama seperti perhiasan emas yang dihalalkan untuk wanita, maka diharuskan untuk orang lelaki memakai gelang di lengan, kalung di tengkuk dan gelang di tangan dan selainnya kerana tidak thabit pengharaman perak melainkan pengharaman kepada bekas-bekas dan pengharaman menyerupai wanita.
(Sila lihat laman rasmi Dar al-Ifta’ al-Misriyyah: http://www.dar-alifta.com/)
Kesimpulan dari jawapan di atas ialah:
TIDAK HARAM berubat dengan gelang yang terbukti melalui kajian saintifik atau pengakuan individu yang berkelayakan dan boleh dipercayai agamanya.
Larangan memakai gelang yang dinamakan al-Wahinah di dalam hadith bukan merujuk kepada gelang semata-mata dan bukan juga merujuk kepada larangan berubat dengan gelang, sebaliknya ia merujuk kepada merubat dengan tangkal atau gelang yang hanya semata-mata tangkal.
Orang-orang yang menggunakan gelang atas sebab-sebab yang dibenarkan hendaklah memerhatikan yang mereka tidak sampai ke tahap yang dilarang seperti pembaziran dan menyerupai wanita dalam penggunaannya.
1/21/2009
Subscribe to:
Comments (Atom)



